World Autism Awareness Day 2018 Rumah Autis

Senin, 2 April 2018 | 00:57 WIB | Aji Anggono | Lintas Autis | 131

Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata  autis? Kebanyakan di antara kita pasti memiliki persepsi negatif. Mereka anak tak normal, Perilaku aneh  dan tak cerdas. Benarkah demikian?

Jawabannya tidak! Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Terutama anak dengan  autisme tidak seperti yang kita bayangkan. 
Di Hari Peduli Autis Sedunia ini, harus menjadi momentum penting untuk mengubah cara pandang kita terhadap ABK khususnya Autisme. Karena dengan persepsi yang benar dan tepat, akan memunculkan kesadaran dan empati terhadap mereka.

Hari Peduli Autis Sedunia ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 18 Desember 2007 dan  menetapkan 2 April setiap tahunnya sebagai HariPeduli  Autisme Sedunia. Melalui Hari Peduli Autisme Sedunia, PBB menghimbau agar semua negara anggotanya untuk mengambil langkah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap autisme di kalangan masyarakat, yang dapat dilakukan dengan diagnosis dini untuk pemberian intervensi dini.  Apakah penyebab Autisme?

Meskipun tidak ada penyebab unik untuk autisme, ada bukti yang berkembang tentang penyebab autisme. Autisme dapat muncul karena berbagai masalah kesehatan. Ada beberapa indikasi pengaruh genetik pada autisme, contohnya, kemungkinan besar dua anak kembar monozigot (kembar identik) akan memiliki autisme daripada dua kembar dizigotik (kembar fraternal). Dalam kasus kembar monozigot, ada tumpang tindih 100 % dalam gen, sedangkan pada kembar dizigotik ada tumpang tindih 50 % pada gen. 

Saat ini banyak sekali penelitian yang difokuskan pada lokasi "gen autisme". Namun, banyak peneliti yang berspekulasi bahwa 3-5 gen kemungkinan akan terkait dengan autisme. Ada juga bukti bahwa sistem kekebalan tubuh yang lemah juga berhubungan dengan genetik autisme. Penelitian ini menunjukkan pula bahwa depresi atau disleksia berpengaruh pada munculnya autisme, seperti yang dikutip dari autism.com. 

Berikut adalah tanda-tanda awal atau indikator dari autisme, seperti yang dikutip dari autism-help.org:

Kemampuan sosial

1. Tidak mampu melakukan instruksi sederhana
2. Tidak dapat mempertahankan kontak mata atau tersenyum kembali kepada orang lain
3. Sibuk dengan dunia mereka sendiri dan memiliki sedikit minat pada orang lain
4. Menanggapi beberapa suara, tapi bukan suara manusia

Perilaku

1. Kesulitan mengatasi perubahan rutinitas
2. Suka menyakiti diri sendiri
3. Terlalu pasif atau memiliki ledakan emosional tanpa sebab yang jelas
4. Terlalu terfokus pada objek atau topik tertentu
5. Melakukan kebiasaan yang berulang-ulang, misalnya, bergoyang atau mengepakkan tangan

Indra

1. Mempunyai reaksi yang kuat terhadap suara-suara tertentu
2. Tidak akan melihat objek secara langsung
3. Ketidakpekaan terhadap nyeri atau bahkan temperatur yang ekstrim
4. Hanya makan beberapa jenis makanan saja
5. Tertarik untuk menatap pola-pola tertentu atau merasakan tekstur tertentu
6. Kurang memiliki ekspresi gembira

Bermain dan imajinasi

1. Hanya mau bermain dengan mainan tertentu saja, mungkin dalam cara yang tidak biasa
2. Memilih untuk tidak bermain dengan orang lain
3. Bergerak pada ruang yang terbatas saat bermain

Pencegahan atau intervensi

Banyak orang telah mencoba berbagai jenis perawatan tradisional dan non-tradisional untuk mengurangi perilaku autistik dan untuk meningkatkan perilaku yang normal. Meski penderita autisme telah diberi obat, tidak ada obat utama yang telah terbukti efektif secara konsisten dalam mengobati gejala autisme. Resep obat yang paling umum diberikan untuk anak-anak autis adalah Ritalin, stimulan yang digunakan untuk mengobati kelainan Hiperaktivitas. 

Ada perlakuan khusus yang menerima dukungan paling empiris tentang penanganan gejala autisme yakni Applied Behavior Analysis (ABA: Modifikasi perilaku) dan penggunaan vitamin B6 dengan suplemen magnesium. Modifikasi perilaku melibatkan berbagai cara, misalnya, penguatan positif. Untuk meningkatkan perilaku yang sesuai lakukan komunikasi dan perilaku sosial. Untuk mengurangi perilaku yang tidak sesuai lakukan stimulasi diri, seperti yang dikutip dari autism.com.

Vitamin B6 dan magnesium memang telah terbukti dapat meningkatkan kesadaran dan perhatian pada sekitar 45 % anak autis. Sejumlah laporan terbaru tentang manfaat suplemen nutrisi lain seperti Di-methylglycine (DMG). Ada banyak laporan yang menyebutkan bahwa DMG mampu meningkatkan keterampilan komunikasi. 

Beberapa orang autis memiliki sejenis jamur yang disebut candida albicans dalam saluran usus mereka. Jika jamur ini tumbuh dengan cepat, maka ini dapat melepaskan racun dalam darah. Hal itu tentu dapat mempengaruhi fungsi otak. Jumlah candida albicans yang berlebihan dapat diobati dengan obat yang sedikit ringan seperti Nistatin.

Para peneliti baru-baru ini mendeteksi adanya peptida yang abnormal dalam urin orang autis. Diperkirakan bahwa peptida ini mungkin disebabkan ketidakmampuan tubuh untuk pemecahan protein menajdi asam amino tertentu. Protein yang dimaksud adalah yang terkandung dalam berbagai jenis gandum dan kandungan kasein pada susu sapi.

Semoga peringatan Hari  Peduli Autis Sedunia kali ini menyadarkan kita bahwa persepsi negatif kepada mereka adalah tidak benar. Karena mereka sama dengan kita. Memiliki potensi dan hak yang serupa. 


Autism doesn't  end in April. It's Everyday of the year.

#rumahautis
#kitapedulimerekamandiri

www.rumahautis.org



Berikan komentar






Artikel Terbaru

World Autism Awareness Day 2018 Rumah Autis
di posting Senin, 2 April 2018 | 00:57 WIB

Rekening Donasi

  • Bank Mandiri : 167 0000 674 076 An. Yayasan Cagar (Cahaya Keluarga Fitrah). Rumah Autis Pusat
  • BNI : 0293 870 445 An. Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah
  • BJB : 0024 4010 91 100 An. Yayasan Cagar Rumah Autis
  • BNI Syariah : 0294 477 011 An. Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah
  • BCA : 572 032 9516 An. Deka Kurniawan

Alamat Kantor Pusat

Rumah Autis
Ruko Ratna Asri Residence
Jl. Dr. Ratna No 26 D
Jati Kramat, Jati Asih
Kota Bekasi, Jawa Barat
P: (021) 2210-7656