
Aboutisme
Pengobatan Autisme Melalui Terapi Pemija“Sudah menjadi impian saya sejak dulu untuk membantu anak-anak autis, sehingga mereka dapat menikmati hidup layaknya anak-anak normal dan bahagia didalam kehang... Read more |
Tes untuk mengetahui autisme
Pervasive Developmental Disorder Scree
Empat Terapi Autisme
Sedikitnya ada empat terapai yang bisa

Konsultasi
Tips Anak Autis Saat BerpuasaTinjauan Medis Oleh Dr. Suzy Yusna, Sp. Kj. 1. JAM TIDUR ANAKSaat bulan Ramadhan jadwal aktivitas anak berbeda dengan sebelumnya. Dalam bulan tersebut aktivita... Read more |
| Autisme adalah ... |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Saturday, 25 April 2009 21:25 |
Autisme adalah…
Gejala-gejala yang Meremukkan BatinAutisme muncul dalam karakteristik atau gejala-gejala dengan berbagai kombinasi gangguan dari yang ringan sampai berat.Gangguan ini umumnya mencakup beberapa aspek, yakni: KomunikasiTerlambat atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak bisa menghubungkan kata-kata dengan arti yang lazim. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan dalam waktu singkat. Bersosialisasi (bergaul)Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum. Kelainan PenginderaanSensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. PerilakuDapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif terhadap orang lain atau dirinya sendiri (seperti membentur-benturkan kepala, menggigit tubuh dan benda-benda keras). Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari hari. Walaupun autisme dapat didefinisikan sebagai sekumpulan gejala, tapi anak-anak dengan gangguan autisme dapat menunjukkan kombinasi perilaku dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Semua gejala tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan pada satu anak. Tapi, bisa jadi pada dua anak yang didiagnosa autisme dapat berperilaku berbeda satu sama lain. Yang pasti anak autis bukanlah anak yang memiliki kelainan jiwa (gila). Ia adalah anak normal yang hanya mengalami gangguan perkembangan. Masa depannya bisa kembali berjalan baik bila, dan hanya bila, mendapat penangan multi terapi yang memadai dan optimal. Penyebab Tak Kunjung PastiBerbagai literatur serta para pakar menyatakan, sebagai sebuah fenomena peradaban yang relatif baru, autisme masih belum dapat dipastikan ‘biang keladinya’. Ketika pertamakali dideteksi di Amerika pada tahun 1943, Leo Kanner menyimpulkan penyebabnya adalah pola asuh yang salah dari orang tua. Tapi pada perkembangan berikutnya ditemukan penelitian bahwa kerusakan fungsi-fungsi otak dan saraf pada anak autis, yang menyebabkan keterlambatan perkembangannya, disebabkan oleh keracunan sel serta mutasi gen yang dipicu oleh masuknya unsur-unsur logam berat seperti merkuri dan plumbum. Faktor-faktor pemicu itu sendiri lahir sebagai konsekuensi dari perkembangan tehnologi, terutama dalam bidang pangan yang sering menggunakan kandungan logam sebagai pengawet. (Menangani Anak Autis, Nakita, 2004). Ragam Penyandang AutisAutisma dapat terjadi pada siapa saja tanpa mengenal perbedaan status sosial, ekonomi, pendidikan, maupun golongan etnik dan bangsa. Anak-anak yang menderita autis tersebar di kota-kota besar dan banyak menjamur pula di pelosok-pelosok kampung. Kalaupun kelihatannya anak-anak autis identik dengan orang-orang berpunya, ini karena biaya terapi autis memang terbilang sangat mahal sehingga hanya mereka yang bisa menjalani terapi. Sementara, orang-orang tua autis yang tergolong dhuafa tidak bisa menjangkaunya. Terlepas dari belum pastinya penyebab autisme, yang pasti masyarakat belakangan ini mulai ‘terusik’oleh kehadirannya. Menurut sejumlah penelitian, jumlah penyandang autis kian hari kian meningkat (buku yang diterbitkan Tabloid Nakita mengutip laporan terakhir dari negeri seberang tentang rasio perbandingan anak autis dan normal yakni 1:100, dan dianggap berlaku juga di Indonesia). Konsekuensi Batin: Mengasuh Badai, Menguras Air MataDilihat dari beban yang harus ditanggung oleh anak autis maupun orang tuanya, gangguan ini terasa amat memilukan. Dengan gangguan seperti di atas, bisa dibayangkan betapa remuknya hati para orang tua yang tidak siap mental bila harus ditakdirkan menerima titipan amanah seorang anak autis. Perasaan buntu menghadapi manusia-manusia spesial itu menyebabkan tidak sedikit para orang tua yang mengalami depresi, bahkan sampai broken home. Masih sangat panjang derai air mata yang dikuras dari keberadaan anak-anak autis. Konsekuensi Lahir: Mencekik DompetKepedihan di atas belum termasuk yang diakibatkan oleh beban upaya terapi yang harus ditanggung orang tua autis dengan mengeluarkan uang dalam jumlah habis-habisan, karena proses terapinya yang terbilang sangat mahal. Apalagi terapi untuk anak autis memakan waktu yang cukup lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya, tergantung parah-tidaknya gangguan yang diderita. Bisa dibayangkan jika keadaan itu benar-benar harus ditanggung oleh keluarga yang tidak mampu. Banyak orang tua yang patah arang karena biaya terapi bagi anaknya melebihi anggaran hidup yang pokok bagi seluruh anggota keluarganya. |
| Last Updated on Monday, 30 November 2009 22:21 |


























