Rabu, 6 Februari 2013 | 07:58 WIB | Administrator | Lintas Autis | 1957
Pertama kali Rendy datang ke Rumah Autis pertengahan November 2007. Rendy berada di Rumah Autis Cabang Tangerang. Tatapan matanya yang berputar, tidak fokus, air liur yang terus menetes dan ketakutan yang sangat pada segala hal, membuat tim terapis Rumah Autis Tangerang terenyuh.
Dengan terbata dan terurai air mata, Sri Astuti ibu Rendy menuturkan kisahnya. Wanita 34 tahun itu melahirkan Rendy pada tanggal 15 November 1999 dengan kondisi menghawatirkan. Rendy keracunan air ketuban. Lahir dengan berat badan 2,6kg Rendy kecil harus bertahan untuk hidup. Selama 11 hari, Rendy berjuang hidup di dalam Incubator,
Setelah pulang ke rumah pun tumbuh kembang Rendy berjalan lambat. Menginjak usia 7 bulan Rendy baru bisa telungkup dan baru bisa berjalan di usia 26 bulan. “Hati saya hancur, karena sejak bayi Rendy tidak mau kontak mata, seperti tidak mengenal saya sebagai ibunya,” ujar Asturi ibu rendy penuh pilu.
Subhanallah, begitu berat ujian yang Allah berikan. Seperti umumnya anak-anak di Rumah Autis. Rendy tidak pernah mendapatkan penanganan medis yang memadai karena ayah Rendy hanya seorang buruh kasar penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kondisi keluarga Rendy kian sulit, ketika Rendy menginjak usia 7 tahun. Rendy harus sering pergi ke rumah sakit karena sering kejang. Berbagai pemeriksaan di rumah sakit yang sangat mahal membuat beban ekonomi keluarga semakin berat. Ditambah lagi adik Rendy lahir. Sejak saat itu Ibunda Rendy cenderung protektif dalam merawat Rendy.
“Saya takut Rendy sakit lagi. Kalau masuk rumah sakit lafi kami tidak ada biaya. Biar Rendy dengan kondisinya seperti ini, kami sangat sayang” ujar Astuti. Pokoknya semua perjuangan hidup ini buat Rendy, biarpun hidup kami susah kami ingin Rendy tetap bahagia” tambahnya.
Dan kini Rendy sudah sembilan bulan terapi di Rumah Autis Tangerang. Sekarang Rendy jauh lebih percaya diri. Dulu Rendy takut sekali bila berada di keramaiaan atau bila melihat cahaya yang terlalu terang, atau melihat benda yang besar. Sekarang Rendy bahkan sudah mau memanjat tangga perosotan.
Sembilan bulan yang lalu tak sepatah kata yang terucap dari mulut Rendy. Sekarang Rendy sudah bisa tertawa geli dan berucap “Ya kawah (kalah), bila bu Siti terpisnya tertunduk kelelahan sesudah mendampinginya lompat di trampolin. Dengan mata terbinar ia berkata saat pamit, “Bu ndy gih ma bapak (Rendy mau pergi sama bapak) ketika ayahnya datang menjemput seusai terapi.
Senyum Rendy lebih sering berkembang bila ia berada di sesi klasikal bersama teman-temannya yang lain. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh orang tua Rendy sembilan bulan yang lalu. Kepasrahan terhadap takdir itu kini terwujud dalam ihtiar orang tua Rendy terutama ibunya. *Rumahautis
Sumber: Majalah Rumah Autis 2008

