Rabu, 6 Februari 2013 | 08:01 WIB | Administrator | Pengetahuan | 1531
Dokter itu menyambut relawan Rumah Autis dengan ramah. Beberapa saat larut dalam perbincangan, Sang Relawan kemudian meyerahkan sebuah bendel sederhana kepadanya. Diterima dan dibacanya bendel itu “Merangkul Pilu, Menebar Kasih: Proposal Penangan Kompresif Anak Autis dan Berkebutuhan Khusus Dhuafa.”
Sejenak diperhatikan pula foto anak-anak spesial yang tengah berpose di sampul depan. Kemudian dibukanya halaman dalam dan dibacanya kisah Nada, seorang anak penyandang autis sekaligus microhephyaly dan epilepsi, yang orang tuanya hanya pegawai negeri biasa. Dokter yang atas izin Allah diberikan kelimpahan rexeki, tiba-tiba menangis.
Apa gerangan yang membuat air matanya tumpah ? Rupanya ia terkejut dan haru. Selama ini merasa sudah menjadi orang tua yang paling menderita karena harus berjuang dan berkorrban dalam mendampingi buah hatinya yang menyandang autis.
Sebuah pertanyaan besar kontan menyergap “Bagaimana dengan orang-orang tua penyandang autis yang dhuafa ? Maka terbayanglah, betapa teramatberatny penderitaan yang harus mereka tanggung. Namun, di tengah badai kesulitan yang berlipat ganda itu ternyata mereka bisa tabah. Ia tiba-tiba merasa malu kepada Allah.
“Aku seharunya bisa lebih kuat, karena Allah telah meringankan bebanku dengan karunia kecukupan harta.” Rasa malu itu telah mengantarkan pada rasa syukur yang menyala-nyala. Ia terinspirasi oleh perjuangan saudara-saudaranya yang dhuafa di Rumah Autis. Ia menemukan dirinya lebuh tegar. Saat itu rasa syukur diwujudkan dalam niatan menjadi donatur Rumah Autis. *Deka Kurniawan
Sumber: Majalah Rumah Autis 2008

