Senin, 03 Februari 2014 | 11:44 WIB | Administrator | Lintas Autis | 1760
Saya Muhammad Fazer. Teman-teman akrab memanggil saya Izer. Saya dikarunia dua orang anak. Paksi Ahmad Khoir berusia 6 tahun dan Nabil yang berusia 2 tahun. Pada usia 1,5 tahun, Paksi didiagnosa me menderita autis. Ketika mendengar diagnose dokter perasaan saya berkecampuk, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Akan tetapi Alhamdulillah saya bisa mengatasi perasaan itu karena saya pernah menonton di tv ada anak autis yang bisa hidup normal dan saya berkeyakinan bahwa Paksi adalah salah satunya.
Awal perkembangan, Paksi normal-normal saja seperti anak-anak lain. Setelah beumur 1,5 tahun, kami mulai menyadari ada perbedaan perkembangan yang dialami Paksi. Ia tidak bisa berkomunikasi scara verbal. Dia sama sekal tidak bisa kontak mata dengan siapa pun termask ibunya.
Kami keluarga beberapa kali membawa Paks ke RSCM untuk diterapi, namun kendala biaya membuat kami harus menunda keinginan terapi untuk Paksi. Saya bekerja sebagai pedagang keliling, setiap harinya saya mengantarkan dagangan ke warung-warung kecil di sekitar Jakarta. Saya dan neneknya Paksi bergantian menjaga dan mengajaknya bermain. Bila tidak ada yang menjaga, terpaksa saya mengajak ikut berkeliling mengantarkan dagangannya.
Ada salah satu pelanggan yang berempati kepada saya. Walaupun degangan saya tidak habis terjual, dia bersedia membeli seluruh dagangan saya, setelah melihat Paksi. “Alhamdulilah” ujar dalam hatiku.
Sekarang saya sangat-sangat bersyukur kepada Allah, Paksi bisa kembali diterapi secara rutin. Harapan itu kembali muncul setelah berdirinya Rumah Autis Tanjung Priuk Jakarta Utara. Walaupun saya harus meminjam motor teman untuk sampai ke Rumah Autis. Saya akan melakukan bahkan melakukan demi melihat kembali keceriaan dan senyum Paksi.
(Majalah Derap Cinta Rumah Autis 2008)

