Rabu, 6 November 2013 | 08:16 WIB | Administrator | Pengetahuan | 1681
Autisme adalah kombinasi dari beberapa gangguan perkembangan saraf, otak dan perilaku pada anak yang secara tipikal muncul pada tiga tahun pertama usia anak. Kata 'autisme' itu sendiri, berasal dari bahasa Yunani "autos", yang berarti diri sendiri. Sehingga biasanya anakanak penyandang Autisme itu seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri, meki di tengah keramaian sekalipun.
Gejala-gejala yang Meremukkan Batin
Autisme muncul dalam karakteristik atau gejala-gejala dengan berbagai kombinasi gangguan dari yang ringan sampai berat. Gangguan ini umumnya mencakup beberapa aspek, yakni:
1. Komunikasi
Terlambat atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak bisa menghubungkan kata-kata dengan arti yang lazim. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan dalam waktu singkat.
2. Bersosialisasi (bergaul)
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.
3. Kelainan Penginderaan
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
4. Perilaku
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif terhadap orang lain atau dirinya sendiri (seperti membentur-benturkan kepala, menggigit tubuh dan benda-benda keras). Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari hari.
Walaupun autisme dapat didefinisikan sebagai sekumpulan gejala, tapi anak-anak dengan gangguan autisme dapat menunjukkan kombinasi perilaku dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Semua gejala tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan pada satu anak. Tapi, bisa jadi pada dua anak yang didiagnosa autisme dapat berperilaku berbeda satu sama lain. Yang pasti anak autis bukanlah anak yang memiliki kelainan jiwa (gila). Ia adalah anak normal yang hanya mengalami gangguan perkembangan. Masa depannya bisa kembali berjalan baik bila, dan hanya bila, mendapat penangan multi terapi yang memadai dan optimal.
Konsekuensi Batin: Mengasuh Badai, Menguras Air Mata
Dilhat dari beban yang harus ditanggung oleh anak autis maupun orang tuanya, gangguan ini terasa amat memilukan. Dengan gangguan seperti di atas, bisa dibayangkan betapa remuknya hati para orang tua yang tidak siap mental bila harus ditakdirkan menerima titipan amanah seperti anak autis. Perasaan buntu menghadapai manusia-manusia spesial itu menyebabkan tidak sedikit para orang tua yang mengalami depresi, bahkan sampai broken home. Masih sangat panjang derai air mata yang dikuras dari keberadaan anak-anak autis.
Konsekunsi Lahir: Mencekik Dompet
Kepedihan di atas belum termasuk yang diakibatkan oleh beban upaya terapi yang harus ditanggung orang tua autis dengan mengeluarkan uang dalam jumlah habis-habisan, karena proses terapinya yang terbilang sangat mahal. Apalagi terapi untuk anak autis memakan waktu yang cukup lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya, tergantung parah-tidaknya gangguan yang diderita.
Bisa dibayangkan jika keadaan itu benar-benar harus ditanggung oleh keluarga yang tidak mampu. Banyak orang tua yang patah arang karena biaya terapi bagi anaknya melebihi anggaran hidup yang pokok bagi seluruh anggota keluarganya. *Rumahautis
Sumber: Majalah Rumah Autis 2008

