Senin, 03 Februari 2014 | 0855 WIB | Administrator | Lintas Autis | 3181
Yasmir yang dahulu bekerja sebagai satpam dan tukang ojek. Kini berubah haluan menjadi tenaga pendidik bagi mereka anak-anak penyandang autis. Tahun 2004, Lailatul Amanah anak Yasmir divonis positif autis oleh sebuah pusat terapi autis. Autis pada tahun 2004 masih teramat mahal. Biaya terapi perjam mencapai Rp50.000,. Dengan biaya yang cukup mahal Yasmir pun disarankan agar terapi 2 jam sehari dan seminggu 3kali.
Pertemuan pertama untuk terapi setiap minggunya Yasmir harus mengeluarkan Rp1.500.000, hanya untuk biaya terapi, di lain hal penghasilan Yasmir hanya Rp750.000 perbulan dari pekerjaannya sebagai satpam. Biaya yang cukup besar membuat Yasmir hanya bisa meratapi anaknya. Meskipun demikian, kebaikan tempat terapi memberikan keringan biaya dengan membayar Rp900.000 anak Yasmir bisa menikmati terapi tanpa sedikitpun dibedakan.
Dewi Fortuna kian jauh dari kehidupan Yasmir, terapi untuk anaknya hanya bisa bertahan 1bulan karena pendapatan Yasmir jauh dari impiannya. Yasmir pun sempat pasrah dengan keadaan, batinnya menangis bukan karena tak sayang dengan anaknya, namun Yasmir harus tegas mengambil keputusan untuk berhenti terapi bagi anaknya demi keberlangsungan kehidupannya.
Akan tetapi masalah tidak berhenti di situ saja. Jarak yang jauh dan prilaku anakku yang sulit terkendali, emosinya masih sangat tinggi yang terkadang menjadi hambatan untuk terapi. Untuk mengirit ongkos aku lebih banyak yang mengantar anakku, kalau istriku yang mengantar ia harus naik ojek. Sedangkan aku bisa pakai sepeda. Kemudian baru naik angkot. Apabila pulang kerja dalam kondisi lelah dan mengantuk aku harus tetap mengantar anakku ke Rumah Autis. “Mau tidakmau, suka tidak suka, hidup ini harus tetap aku jalani” ujarku dalam hati.
Malu dan minder terkadang timbul dalam hatiku, namun demi anakku. Ku tepis semua dengan semangat dan usaha. Aku bersyukur anakku masih terus terapi, meskipun dihatiku berkecambuk kesedihan, waktu, tenaga tidak bisa aku kontribusikan untuk Rumah Autis.
Sudah 3 tahun lebih anakku terapi di Rumah Autis, anakku telah banyak mengalami kemajuan . Dengan bekal pelatihan terapis yang diberian Rumah Autis, aku menambah sendiri jam terapi anakku untuk di rumah. Adpun kemajuan yang telah dicapai anakku saat in i:
Memang kalau di bandingkan anak normal seusianya, Ana anakku masih tertinggal jauh.Namun, kemajuan yang telah dicapai memberikan harapan. Suatu saat nanti Ana pasti akan bisa seperti anak lainnya. Namun, semua itu tentunya membutuhkan perjuangan yang panjang dan pengorbanaan tenaga, waktu, pikiran dan materi yang tidak sedikit. Dan aku hanya bisa berdoa diiringi usaha, semoga Allah memberikan kesehatan dan kemudahan kepada kami semua. (Majalah Derap CintaRumah Autis Edisi 2008)
Sumber gambar:
(http://3.bp.blogspot.com/--BesM4bN5Dg/UO2b92wZpLI/AAAAAAAAAGU/SK2L170HLL0/s320/ojek-1.jpg)

